05 April 2009

Say nothing for nothing

Catatan : 06 Februari 2009

Angels glitters

Pada dasarnya, gue type orang yang enggak bisa banget Cuma “ diem “ kalo lagi ada masalah dengan “ seseorang “ .
Bukan juga type orang yang menganggap bahwa diam bisa menyelesaikan masalah walo buat sesaat.
Selagi gue masih perduli, selagi gue merasa bahwa gue ikut andil dalam masalah, gue akan bicarain itu ampe Tas tas tuntas..walo lucunya kalo gue udah gak perduli.. dan udah sebel banget… gue bisa jadi begitu diam dan gak mau bicarain apa-apa juga. Itu akan terjadi saat gue udah di ambang ke marahan, kekecewaan atau keputus asaan.
Tapi selama gue masih merasa berusaha bicara dan membahas permasalahan.. itu berarti gue masih sangat membuka pintu keterbukaan dan koreksi.
Itu gue biasanya.
Dan seperti nya hal ini terulang buat seseorang.
Udah lama gue gak pernah se frustrasi begini membuka jalur komunikasi dengan seseorang.
Jalur yang dengan kebodohan gue, gue tutup sendiri.
Jalur yang gue ciptakan sendiri karena.. ke egoisan gue…
Yap.. tembok itu gue yang buat, gue yang ciptakan, gue yang tata hingga ketika akhirnya berdiri dan menghalangi jarak gue dan dia.. gue berubah menjadi panic.. hehhe
Dan saat gue mencoba meruntuhkan satu persatu bongkahan bata nya… dia terlanjur merasa “ sakit “
Harus nya gue enggak perlu meradang
Harusnya gue enggak perlu histeris
Harusnya gue enggak perlu se heboh itu menanggapi reaksinya..harusnya..
Toh awalnya semua itu kan maksud dari semua tindakan gue sebelumnya..
Tapi kenapa gue meradang sekarang ?
Kenapa gue kecewa ?
Kenapa gue sedih ?
Kenapa gue merasa.. “ di tinggalkan ? “
Kenapa ?
Mungkin lebih mudah mentoleransi kesalahan orang dibanding kesalahan diri sendiri ?
Mungkin..
Mungkin gue merasa.. terlebih saat ini.. bahwa apa yang gue lakuin ama dia.. betul betul hal yang buruk banget.. setidaknya menurut dia.. mungkin kalo gue jadi dia pun.. gue akan bereaksi hal yang sama..
“ siapa elo ? “ yap.. siapa gue ?
Siapa gue yang berhak menentuin semau gue.. apapun yang gue lakuin harus bisa di toleransi..
Siapa gue.. yang berhak menilai.. apa yang ada di hati dia dan menganggap nya sebagai pembenaran sendiri ?
Siapa gue.. yang bertindak bodoh tiap kali ada orang yang diam-diam mulai masuk dalam kekosongan hati gue..
Takutkah gue ?
Takut kalau akhirnya.. rasa yang gue punya.. enggak sebesar rasa yang dia punya buat gue..
Takutkah gue kalo pada akhirnya luka itu harus gue rasain lagi ? dan lagi ?
Ini kah proteksi diri gue ?
Ini kah bentuk perlindungan hati gue ?
Entah lah…
Apa benteng yang gue ciptakan terlalu rapat ? terlalu tinggi ? terlalu….
Arrrsrshhh
Entahlah…
Mungkin aja.. mungkin aja..

Glitter Graphics

Rasa

Glitter Graphics
Hari ini sebuah rasa terbentuk
Buat seseorang yang mungkin tak akan pernah tau
Rasa yang makin lama makin membuat aku ringkih,
membuat aku letih membuat aku tak berdaya

Hari ini sebuah rasa terbentuk
Untuk seseorang yang tercipta dari dunia yang berbeda
atas hidup atas kesehariannya atas aku..
Dan kesadaran itu makin membuat aku semakin tak bedaya...
Walau tak juga membuat aku terjaga dan tersadar
Untuk Rela melepasnya

Hari ini...
Ya hari ini
Sebuah rasa terbentuk
Atas nama cinta yang coba aku kukuh kan...sendiri
Atas nama tulus yang coba aku dendangkan...dalam diam
Atas nama ikhlas yang menjadi tameng segala ketidakberdayaan ini...

Dan ketika rasa itu semakin membentuk
Jauh di relung jiwa ku
Aku mencoba untuk keluar dari belenggu ikatannya
Aku mencoba berlari menjauhi nya
Aku mencoba mengingkarinya
Aku mencobanya...

Tapi rasa itu telah terlanjur terbentuk
Walau warna yang di pijarkan tak selalu putih
Walau hawa yang di keluarkan tak selalu sejuk

Walau semua itu membuat ketidak nyamanan ku semakin bertambah

Aku tak mampu untuk menghapus nya
Membuang nya
Membunuhnya
Aku tak mampu
Setidaknya tidak hari ini

Karena hari ini
Rasa yang terbentuk itu semakin keras menahanku
Merengkuhku dengan kuku kuku tajamnya
Dan siap meremukkan setiap tulang ku
Untuk suatu saat Menghempaskan aku ...menjadi seonggok debu

Yang membuat aku terkapar ...menunggu waktu
Sampai suatu saat aku rebut kembali kesadaranku, akal sehatku

Tapi hari ini
Biarlah rasa itu menemaniku sementara
Sampai aku merasa lelah

Sampai aku merasa.. semua sia sia